Belajar & belajaR

Belajar bagai jalan tak berujung

Mengenal Ulin Sirap

Posted by a2karim09 pada Mei 12, 2009

Nama Botanis dan Daerah
Kayu ulin yang juga dikenal sebagai kayu besi (ironwood) secara botanis terdiri 2 jenis, yaitu ulin sirap (Eusisedroxylon zwageri) dan ulin tiang (Eusisedroxylon malagangai) termasuk famili Lauraceae. Dari kedua jenis ulin ini yang banyak perhatian adalah ulin sirap, disamping memang populasinya jauh lebih banyak dibanding dengan ulin tiang.
Berdasarkan fisiologis pohon sukar dibedakan. Untuk membedakannya dengan sedikit mengkoak (mengupas ) sebagian kayunya. Kemudian sebagian kupas kayu tersebut diracik membujur urat kayu. Bila mudah diracik maka pohon tersebut merupakan jenis ulin sirap. Sebaliknya bila tidak maka dapat dinyatakan sebagai ulin tiang. Urat kayu ulin tiang lebih banyak berbelok-belok (tidak lurus), sehingga sukar diracik.
Disamping nama botanis, juga mempunyai nama-nama daerah seperti delian, bulian, tebelian, balian, belun, talian, tabulin, telian, telihan, telisai, tihing, tulian, onglen, uncalin, kalangkala ayam dan ulin sendiri.

Sifat Botanis
Pohon dewasa umumnya mencapai tinggi sekitar 30 – 35 meter dengan diameter ± 120 cm. Pada pohon-pohon tua umumnya berdiameter sekitar 60 – 80 cm. Koopman & Verheof (1938) pernah menemukan ulin berdiameter ± 200 cm.
Batang biasanya lurus dan kadang-kadang dijumpai pula bonggolan-bonggolan yang merupakan bekas cabang yang tumpul. Kayu mengandung zat ekstraktif silikat. Batang bebas cabang setinggi ± 15 meter atau berkisar 10 -20 meter. Tapi penah pula ditemukan tinggi bebas cabang hingga ± 25 meter (Koopman & Verheof, 1938). Percabangan tidak banyak dengan ranting-ranting yang tipis dan kebanyakkan menggantung.
Tebal kulit batang sekitar 0,5 – 1,5 cm dengan warna coklat kemerahan (De Veer, 1954). Kulit kayu mengelupas secara alami dengan ketebalan sekitar 2 – 4 mm.
Tajuk rapat dan menyebar lebar dengan cabang-cabang yang mendatar. Kedudukan tajuk dalam hutan campuran pada stratum B (Weiss, 1957).
Daun ulin merupakan daun tunggal. Letaknya berjejer saling bergantian secara teratur pada jarak yang sama. Daun muda dibentuk pada awal musim penghujan. Awalnya berwarna merah kemudian kuning muda, hijau muda dan akhirnya hijau mengkilap. Aroma daun muda bila diremas seperti aroma jambu air. Bentuk daun berupa elips (bulat lonjong) dengan panjang daun sekitar 12 – 30 cm dan lebar sekitar 6 – 10 cm. Ulin tidak termasuk jenis yang menggugurkan daun.
Ulin berbunga tidak teratur. Pembungaan terbanyak pada pertengahan atau akhir musim kemarau. Bunga sangat kecil sebesar ± 1 mm. Kumpulan bunga dalam tangkai sepanjang 5 – 10 cm dan muncul pada ketiak-ketiak ranting yang tipis. Masa pembungaan di beberapa daerah Indonesia, seperti di Kalimantan Selatan pada bulan Oktober sampai Nopember; di Palembang sekitar bulan Agusutus sampai Nopember; di Jambi pada bulan April, Juni, Nopember dan Desember.

Bunga dan Buah Ulin
(Lap.No.141, LPH Bogor, 1972)

Awal berbuah (termasuk pembungaan) setelah berumur ± 20 tahun. Ulin berbuah setiap tahun. Buah masak tidak serentak, tetapi secara berangsur-angsur selama ± 3 bulan. Panen raya berbeda-beda sesuai masa berbunga di tiap daerah. Di Palembang terjadi pada bulan Juli dan Agustus. Di Belitung sekitar bulan Maret. Buah yang dihasilkan saat panen raya dapat mencapai ± 15.000 buah.
Buah yang cukup baik untuk dijadikan bibit setelah masa pembuahan yang ketiga. Disamping itu pula buah yang tua (masak) yang jatuh ke tanah. Buah yang tua dapat disimpan selama 6 – 12 bulan. Bentuk buah (Eusisedroxylon zwageri) bulat memanjang (bulat melonjong). Panjang buah 10 – 18 cm dengan diameter sekitar 7 – 10 cm. Berbeda dengan ulin tiang bahwa buah berbentuk bola seperti bola pimpong atau golf tapi agak lebih besar.
Sesuai dengan bentuk buah, bentuk bijipun (Eusisedroxylon zwageri) bulat memanjang. Panjang biji sekitar 8 – 15 cm dengan diameter sekitar 4 – 7 cm. Ini juga berarti ketebalan endocarp (termasuk kulit; ketebalan kulit ± 0,5 mm) sekitar 1 – 1,5 cm. Bagaimana menghilangkan endocarp termasuk kulit dalam waktu relatif belum ada penelitian. Percobaan yang pernah dilakukan adalah dengan memasukkan buah-buah ke dalam tanah (dibuat lubang dan setelah buah-buah dimasukkan kemudian ditutup kembali dengan tanah) selama 1 – 2 bulan (Beekman, 1949). Maksudnya agar kulit dan endocarp membusuk dan biji mudah dibersihkan.
Tebal tempurung biji ± 5 mm. Berat biji ± 29/biji atau sekitar 30 – 40 biji/kg.

Biji ulin sirap dan ulin tiang

Perakaran panjang, kuat dan menyerupai permadani tipis. Terbentunya perakaran demikian bila tumbuh pada tanah berpasir dan miskin hara.

Penyebaran & Habitat
Penyebaran ulin secara vertikal dari tepi pantai hingga ketinggian ± 400 m dpl. Terkadang ditemui pula hingga ketinggian 625 m dpl. Di kalimantan menyebar pada hutan campuran dan terdapat sekitar 10 – 20 pohon/ha dengan masa kayu sekitar 20 – 30 m3. Di wilayah hutan Palembang dan Jambi tumbuh menyebar secara sporadis hingga mencapai luas 10.000 ha dengan rata-rata hektar ± 60 pohon dengan masa kayu ± 100 m3. Penyebaran ulin secara horizontal (geografis) dari 50LU – 30LS. Sebaran ini hanya meliputi pulau Kalimantan (termasuk pulau Laut, pulau Sebuku), pulau Bangka, pulau Belitung dan pulau Sumatera (Sumatera Barat, Riu, Jambi, Bengkulu, Siak, Indragiri, Sumatera Selatan).
Habitat ulin pada tanah berpasir yang lembab, sekurang-kurangnya tanah pasir berlempung. Pada tanah berair (rawa) atau secara periodik tergenang air tak pernah dijumpai ulin. Ini berarti ulin tumbuh pada tanah yang beraerasi baik. Di wilayah hutan Pelaihari dan Kintap (Kalimantan Selatan) dijumpai ulin tumbuh pada tanah yang terdiri dari andesit dan gabbro. Di wilayah hutan Kalimantan Tengah dijumpai ulin tumbuh pada tanah kering berpasir atau tanah berpasir kuarsa. Tapi ulin tidak menyukai (kurang sesuai) tumbuh pada tanah yang mengandung kapur.

Kondisi Iklim
Iklim yang dikehendaki lembab atau pada daerah yang musim keringnya tidak begitu menyolok. Di Kalimantan Selatan seperti di Hatungun (2.269 mm, tipe B), Batulicin (2.200 mm, tipe B) dan Kintap (2.407 mm, tipe B). Di Kalimantan Tengah seperti Ajang-Arut (2.600 mm, tipe A), Kawan-Batu (2.626 mm, tipe A). Di Kalimantan Timur seperti Nunukan (3.800 mm, tipe A), daerah pantai Kutai (1.500 mm, tipe B), daerah pendalaman Kutai (2.500 mm, tipe A).
Ulin akan tumbuh baik pada temperatur rata-rata tahunan ± 260C seperti di wilayah hutan Kintap dan Nunukan. Sedangkan pada hutan dipterocarpaceae temperatur sekitar 260 – 270C.
Pertumbuhan ulin akan baik tergantung dari tipe iklim, sifat fisik tanah dan tidak tergantung dari sifat kimia tanah (Claasen & Van Steenis dalam Beekman, 1949).

A2Karim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: